Lingkungan dan Peradaban

24 Juli 2018 / Hana Hanifah / Lingkungan Lingkungan dan Peradaban

Lingkungan dan peradaban, termasuk politik di dalamnya akan selalu berkaitan. Kurang lebih dalam dua dekade terakhir, terutama pasca Perang Dingin, isu lingkungan hidup menjadi agenda global yang semakin penting dan menyedot perhatian banyak negara dan memengaruhi hubungan antarnegara. Tak hanya itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya penyelamatan bumi dan makhluk hidup semakin menguat, mengingat kestabilan ekosistem juga sangat berperan penting bagi peradaban manusia.

Adapaun yang menjadi sorotan dunia saat ini adalah pemanasan global (global warming) yang menyebabkan perubahan iklim. Pemanasan global ini merupakan akibat dari kadar CO2 (karbon dioksida) yang terus meningkat di lapisan atmosfer pelindung bumi dari radiasi langsung matahari dan semua zat yang tak sehat lainnya. CO2 ini berasal dari polusi pembakaran minyak bumi dan batu bara, seperti yang dihasilkan oleh asap kendaraan, pembakaran yang rutin dilakukan oleh berbagai industri dan sebagainya. Karbon dioksida  yang terperangkap di atmosfer tadi kemudian mengurung panas matahari yang seharusnya kembali ke udara. Nah, udara panas yang terperangkap ini membuat suhu bumi meningkat dan menyebabkan perubahan iklim.

Contoh jelas efek dari perubahan iklim, yaitu periode musim hujan dan musim kemarau yang semakin tidak teratur. Sudah sering terjadi dimana pada siang hari matahari bersinar sangat terik tapi beberapa jam kemudian hujan turun deras disertai guntur, bahkan sampai menyebabkan banjir. Perubahan iklim yang semakin membingungkan ini kerap kali berdampak buruk bagi hasil panen. Gagal panen kemudian berpengaruh pada kekurangan pasokan pangan, kenaikan harga makanan, kemiskinan dan pemasukan negara. Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada antisipasi dari kita sendiri maka tak diragukan lagi akan menyebabkan instabilisasi dimana-mana. Peradaban manusia bisa saja terpuruk karena masalah lingkungan.

Contoh yang lebih konkrit lain mengenai perubahan iklim yang berpengaruh terhadap stabilisasi peradaban adalah pasca letusan Tambora yang dahsyat pada 1815 di Sumbawa. Peristiwa tak terlupakan ini memang karena faktor alam tapi kita tak bisa mengabaikan dampak perubahan iklim ekstrim yang disebabkannya. Bahkan, masa pasca erupsi Tambora disebut sebagai zaman tanpa musim panas di Eropa atau musim tanpa matahari selama dua tahun lebih.  Dampak erupsi juga sampai ke China, Amerika Utara, Inggris, Irlandia dan India. Gagal panen, kelaparan, wabah kolera, kemiskinan dan aksi protes karena melambungnya harga bahan pokok merajalela hampir di seluruh daratan dunia. Efek perubahan iklim yang sangat ekstrim ini  juga menyebabkan perpecahan di beberapa negara bagian di Amerika.

Dari pemaparan singkat di atas, diharapkan kita bisa memahami gambaran umum mengenai efek domino yang bisa diakibatkan oleh perubahan iklim dimana ujungnya peradaban manusia bisa saja ambruk. Karena setiap orang hanya memikirkan diri sendiri untuk melindungi diri dari penyakit dan perut yang lapar. Dari sini, kita sama-sama melihat bahwa lingkungan hidup ini sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga bagi eksistensi peradaban kita sendiri.

Mungkin kita tidak bisa memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi menjadi keadaannya yang sedia kala tapi kita bisa melakukan berbagai tindakan pencegahan untuk memperlambat berbagai prediksi hasil penelitian tentang kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi akibat pemanasan global yang sudah terlanjur terjadi. Sebagai satu-satunya makhluk berakal yang sama-sama menempati bumi yang juga peduli terhadap kelangsungan peradaban kita, tak ada alasan untuk tidak menjaga bumi kita.

Climate Change  Lingkungan   Perubahan Iklim   Environment   Peradaban   Civilization 


TAGS
Syafii MaarifPerdamaian Penghayat KepercayaanPeace Train IndonesiaPartisipasiMunawar AliMembacaMasjidLingkungan KhofifahJayapuraIslamIndonesiaHoaks HAMHak Asasi ManusiaGus DurEkologiDewi PraswidademokrasiBumi BukuBiarawatiAhmad WahibAhmad Gaus AF